Oleh: Dr. Benny Nurdin Yusuf, MH.
Ungkap.co.id – Di tengah gonjang-ganjing fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, spekulasi liar mendadak menjamur di ruang publik, terutama di media arus utama (mainstream).
Jika berbicara tentang manuver ekonomi elit global, ingatan kolektif kita secara otomatis akan membawa trauma pada krisis moneter 1998. Namun sejarah mencatat, bangsa ini mampu bertahan dan keluar dari lubang jarum. Tidak berhenti di situ, badai demi badai pascakrisis hebat itu terus menerpa, termasuk pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu yang sempat melumpuhkan peradaban dan ekonomi.
Berkat kesigapan kebijakan pemerintah dan resiliansi masyarakat, kita tidak hanya selamat, tetapi juga memetik hikmah melahirkan peradaban baru: sistem kerja hybrid dan digitalisasi aktivitas yang kini menjadi hal lumrah.
Menarik memang jika kita membedah dampak dari apa yang kerap disebut sebagai “ancaman elit global”. Dalam konstelasi ekonomi internasional, bantuan asing sering kali datang dalam bentuk penawaran manis yang berselimut jeratan. Alih-alih menjadi solusi jangka panjang, skema bantuan tersebut kerap berubah menjadi bom waktu yang membebani kedaulatan negara.
Menurut penulis, sikap antisipatif inilah yang tampaknya sedang diperagakan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Melalui strategi penguatan ekonomi kerakyatan (mendorong koperasi merah putih), pemerintah memilih berfokus pada ketahanan lumbung pangan mandiri serta konsistensi hilirisasi sumber daya alam sebagai pilar utama pertahanan ekonomi nasional. Langkah ini adalah bentuk penolakan halus namun tegas terhadap ketergantungan asing.
Menurut penulia, langkah paling mudah mengukur kekuatan ekonomi masyarakat melalui deteksi sehat atau lesunya ekonomi tidak harus selalu merujuk pada grafik rumit di bursa saham.
Indikator paling riil dan presisi ada di depan mata kita. Apa itu? Yach “Ruang Ketiga (The Third Space). Ruang ketiga adalah ruang publik di luar rumah (ruang pertama) dan tempat kerja (ruang kedua)—seperti kedai kopi, alun-alun, dan tempat interaksi sosial masyarakat untuk melepas penat. Jika ruang-ruang ketiga ini mulai sepi, meredup, bahkan mati suri, itulah alarm otentik bahwa daya beli masyarakat sedang hancur.
Namun, sebuah paradoks menarik terjadi. Selama beberapa hari terakhir penulis di Kota Gudeg ini, penulis mengamati langsung perilaku ekonomi masyarakat. Hasilnya? Nyaris tidak ada yang berubah.
Kehidupan berjalan normal, denyut sosial tetap tinggi, dan yang paling memikat mata: tempat-tempat nongkrong serta pusat kuliner tetap penuh sesak manusia. Isu merangkaknya dolar seolah menguap begitu saja, tidak mampu membendung gairah ekonomi lokal.
Baca Juga : Transformasi Layanan Kesehatan Berbasis Digital: Babak Baru Pelayanan Kesehatan Taiwan
Kenyataan di lapangan ini memicu pertanyaan reflektif: Apakah kepanikan isu ekonomi global ini murni akibat dinamika pasar, ataukah sebuah desain (by design) yang sengaja diembuskan oleh elit global untuk menjegal langkah presiden kita?
Langkah seorang pemimpin yang secara tulus ingin membawa bangsa ini berdiri di atas kaki sendiri (berdikari), mengoptimalkan sumber daya domestik, dan menyelamatkan keuangan negara dari kebocoran.
Penulis melihat kondisi saat ini ibarat sebuah rumah tangga yang sedang dihantam badai isu rentenir, tetapi dengan berani menolak tawaran utang baru demi menjaga kehormatan dan kemandirian finansialnya.
Tentu kita berharap, di balik sentimen menguatnya dolar AS, optimisme pemerintah yang bersandar pada kekuatan domestik dapat memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Krisis ekonomi tidak harus direspon dengan kepanikan masal yang berlebihan (buying panic). Sebaliknya, krisis harus dimaknai sebagai momentum ujian kedaulatan untuk melawan intimidasi finansial global.
Indonesia adalah bangsa yang besar, tegar, dan telah teruji tahan banting menghadapi berbagai ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri. Kita sudah terbiasa berkarib dengan masa-masa sulit, dan sejarah membuktikan kita selalu berhasil melewatinya dengan kepala tegak. Saatnya kita percaya pada kekuatan kaki sendiri.



