Oleh: Dr. Benny Nurdin Yusuf (Waketum MTI, Bidang Ekosistem Transportasi Darat)
Ditulis: Dalam perjalanan Makasar – Jakarta – Jambi, Ahad, 10 Mei 2026
“Jika kita mampu mengubah cara bangsa ini menikmati kopi hanya dalam satu dekade, dan menggeser budaya aroma alkohol menuju aroma cita rasa kopi, maka tidak ada alasan bagi kita untuk gagal mengubah cara bangsa ini menjaga nyawa di jalan raya”. (BNY)
Ungkap.co.id – Fenomena pergeseran konsumsi dari alkohol ke kopi di Indonesia bukan sekadar perpindahan jenis minuman, melainkan sebuah transformasi nilai sosiokultural. Masyarakat bergerak dari hiburan yang bersifat membius (sedative) menuju hiburan yang fungsional dan terkoneksi secara sadar.
Keberhasilan coffee shop memposisikan diri sebagai “ruang ketiga” (the third space) yang netral dan aman telah berhasil menggeser stigma lama. Namun, timbul sebuah diskursus krusial: Jika budaya “ngopi” mampu mengubah gaya hidup masyarakat secara masif, mengapa budaya keselamatan berkendara belum mampu menggeser pola pikir masyarakat?
Padahal, risiko fatalitas akibat abai keselamatan di jalan memiliki derajat bahaya yang setara dengan dampak destruktif alkohol.
Social Engineering dan Simbol Status
Sebagai makhluk sosial, pergaulan adalah kebutuhan fundamental. Status sosial sering kali tercermin dari ruang di mana seseorang berinteraksi. Dahulu, kopi identik dengan generasi tua dan perokok. Kini, melalui standarisasi kafe modern, kopi menjadi simbol jati diri Gen Z.
Data International Coffee Organization menunjukkan konsumsi kopi domestik meningkat lebih dari 250% dalam satu dekade terakhir. Sekitar 70% Gen Z mulai meninggalkan alkohol dan beralih ke budaya kopi yang dianggap lebih produktif dan inovatif.
Keberhasilan ini merupakan bentuk nyata dari social engineering (rekayasa sosial. Sebuah pendekatan yang mengubah perilaku dengan menciptakan lingkungan yang memaksa individu bertransformasi secara organik dari arah negatif ke positif tanpa anggaran negara yang eksesif.
Mengadopsi Strategi “Coffee Shop” ke dalam Keselamatan Jalan
Keselamatan transportasi sering kali dipandang sebagai beban atau kewajiban legalistik yang menakutkan karena sanksi. Untuk mengubahnya menjadi gaya hidup (lifestyle). Menurut penulis kita perlu mengadopsi enam strategi fundamental dari industri kopi modern:
1. Infrastruktur Modern yang Humanis
Infrastruktur jalan tidak boleh hanya sekadar “ada”. Pola lama yang penting jalan bisa dilewati adalah cara berpikir konvensional yang serupa dengan warung kopi tradisional.
Pemerintah harus menghadirkan infrastruktur yang “bercerita” tentang keselamatan—fasilitas yang membuat pengguna merasa aman dan dihargai, sehingga secara psikologis mereka terdorong untuk tertib.
2. Layanan Terintegrasi Berbasis IoT
Pendekatan IoT pada coffee shop modern mampu memikat pelanggan dengan konektivitas dan kenyamanan 24 jam. Layanan angkutan jalan pun harus demikian. Integrasi antarmoda yang didukung oleh Internet of Things (IoT) mulai dari layanan first-mile hingga last-mile, akan menciptakan pengalaman perjalanan yang menyenangkan, bukan melelahkan.
Transformasi Digital melalui pendekatan IoT, sebuah konsep kenyamanan digital di coffe shop dengan menggunakan sistem poin dan aplikasi untuk mengikat loyalitas pelanggan. Keselamatan transportasi jalan harus mampu menghadirkan konsep keselamatan transportasi modern melalui Big Data dan IoT sebagai dasar pengaturan, pengawasan dan penindakan hingga pemantauan real-time posisi armada atau kondisi lalu lintas, bukan sekadar modernisasi, melainkan upaya menciptakan ekosistem yang transparan.
Keamanan yang terbaca oleh teknologi akan melahirkan kepercayaan masyarakat, sebagaimana standar kualitas rasa yang konsisten di setiap cabang kopi modern.
3. Branding Keselamatan sebagai “Label Positif”
Baca Juga : Kecelakaan Kapal, Dua Warga Kuala Tungkal Tenggelam, Satu Ditemukan dan Satu Hilang
Keselamatan jalan harus “dijual” sebagai produk gaya hidup. Jika kopi memiliki brand yang kuat di mata Gen Z, keselamatan jalan juga harus memiliki label positif yang prestisius. Sosialisasi harus keluar dari gaya birokrasi yang kaku menuju kampanye kreatif yang melibatkan sektor swasta dan komunitas.
4. Kemitraan Strategi
Keberhasilan bisnis kopi terletak pada mekanisme kemitraan. Dalam ekosistem transportasi, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Keselamatan adalah tanggung jawab kolektif. Membangun pola pikir bahwa “Keselamatan adalah Keberhasilan Bersama” akan memicu keterlibatan aktif dari seluruh pemangku kepentingan.
5. Menciptakan Daya Tarik dan Kebutuhan
Pemerintah perlu menghadirkan tata kelola keselamatan yang memicu ketertarikan, bukan ketakutan. Masyarakat harus merasa bahwa tertib berlalu lintas adalah kebutuhan dasar untuk menjaga kualitas hidup mereka, sebagaimana mereka membutuhkan kopi untuk menjaga produktivitas.
6. Lingkungan Transportasi yang Adaptif dan Inklusif
Social engineering yang efektif berawal dari pembenahan lingkungan. Contoh nyata adalah keberhasilan pembatasan area merokok di ruang publik. Jika lingkungan transportasi kita inklusif—memiliki trotoar yang layak, fasilitas parkir yang teratur, dan akses yang ramah bagi semua kalangan—maka perilaku masyarakat akan beradaptasi secara otomatis menjadi lebih tertib.
Transformasi Warkop tradisional ke coffee shop adalah ruang energi yang efektif menggeser budaya aroma alkohol dalam pergaulan ke aroma cita rasa kopi. Dalam konteks Keselamatan transportasi jalan, mengadopsi konsep coffee shop (ruang ketiga)” ke dalam ekosistem transportasi adalah kunci transformasi budaya bertransportasi yang selamat, aman, nyaman dan tertib di jalan.
Dengan menciptakan lingkungan jalan yang aman, nyaman, dan adaptif, kita tidak hanya menekan angka kecelakaan, tetapi juga sedang membangun peradaban bangsa yang lebih disiplin dan menghargai nilai kehidupan. Sudah saatnya keselamatan bertransportasi menjadi “aroma” baru dalam pergaulan modern masyarakat kita.



