Oleh: Dony Yusra Pebrianto (Dosen Universitas Jambi, Presenter TVRI Jambi)
Ungkap.co.id – Sepak bola selalu memiliki daya tarik yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Setiap kali Piala Dunia digelar, perhatian masyarakat tertuju pada satu panggung yang sama. Perbedaan latar belakang, usia, profesi, pandangan politik, untuk sesaat seperti tidak lagi menjadi penghalang. Semua menikmati pertandingan dengan antusiasme yang sama tanpa sekat.
Karena itu, saya memandang keputusan Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI menjadi pemegang hak siar Piala Dunia bukan sekadar menghadirkan tontonan olahraga semata. Namun saya mekanai langkah tersebut memiliki makna yang jauh lebih luas. Sebagai akademisi yang setiap hari berinteraksi dengan mahasiswa, saya melihat momentum ini sebagai kesempatan bagi televisi publik untuk kembali menunjukkan jati dirinya.
TVRI tidak hanya menjalankan fungsi penyiaran, tetapi juga menghadirkan akses informasi dan hiburan yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat, sekaligus memperkuat peran edukatifnya bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sebagai seorang akademisi yang mendapatkan kesempatan luar biasa menjadi bagian dari siaran TVRI Jambi, saya melihat langkah ini sangat strategis khususnya bagi Masyarakat Jambi. Bagi Provinsi Jambi yang memiliki wilayah cukup luas, mulai dari kawasan pesisir hingga daerah pegunungan, pemerataan akses informasi masih menjadi tantangan.
Karena itu, keputusan TVRI menyiarkan Piala Dunia secara gratis layak diapresiasi. Dengan dukungan siaran digital yang semakin baik, masyarakat di berbagai daerah memiliki kesempatan yang sama untuk menyaksikan pertandingan.
Di tengah semakin banyaknya layanan siaran berbayar, TVRI tetap menjalankan perannya sebagai lembaga penyiaran publik yang memberikan akses kepada seluruh masyarakat. Petani di Kerinci, nelayan di Kuala Tungkal, hingga mahasiswa yang tinggal di rumah kos di Mendalo dapat menikmati pertandingan dengan kualitas siaran yang sama tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan.
Dari perspektif pendidikan, saya melihat manfaat yang tidak kalah penting. Piala Dunia bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara, tetapi juga menyajikan banyak pelajaran mengenai disiplin, kerja sama, kepemimpinan, sportivitas, dan ketangguhan menghadapi tekanan.
Nilai-nilai seperti itu selama ini kami diskusikan di ruang kuliah, tetapi melalui pertandingan sepak bola masyarakat dapat menyaksikan contoh konkretnya. Bagaimana sebuah tim bangkit setelah tertinggal, bagaimana kepentingan bersama ditempatkan di atas ambisi individu, dan bagaimana rasa hormat kepada lawan tetap dijaga setelah pertandingan berakhir. Bagi generasi muda, pembelajaran melalui pengalaman seperti ini sering kali lebih mudah dipahami dibandingkan sekadar teori.
Fenomena lain yang menarik perhatian saya adalah ruang menonton bersama di berbagai sudut Kota Jambi maupun daerah lainnya yang sudah familiar di lingkungan masyakat kita dengan nama “Nobar”. Kafe, warung kopi, hingga ruang-ruang publik dipenuhi masyarakat yang menikmati pertandingan dalam suasana yang hangat, bahkan pemerintah daerahpun menyelenggarakan Nobar, tentunya juga TVRI Jambi selaku tuan rumah.
Baca Juga : Polda Jambi Gelar Diskusi Publik, Perkuat Sinergi dengan Media
Mahasiswa, pekerja, keluarga, dan berbagai kelompok usia dapat duduk berdampingan, berbagi cerita, berdiskusi, bahkan saling mengenal. Di tengah kehidupan yang semakin individual, momentum seperti ini menjadi ruang sosial yang mempererat hubungan antarmasyarakat.
Tidak dapat dipungkiri, dampaknya juga dirasakan oleh pelaku usaha kecil. Warung kopi, pedagang makanan, penjual minuman, hingga pelaku UMKM memperoleh tambahan pelanggan selama berlangsungnya pertandingan.
Aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitar lokasi nonton bersama menunjukkan bahwa sebuah siaran olahraga mampu memberikan manfaat yang melampaui aspek hiburan.
Kesempatan untuk terlibat dalam sejumlah program siaran di TVRI Jambi memberikan pengalaman yang berharga bagi saya dalam melihat lebih dekat peran televisi publik. Saya menyaksikan bagaimana TVRI berupaya menghadirkan tayangan berkualitas, termasuk ajang olahraga kelas dunia, tanpa mengabaikan mandat utamanya untuk melayani kepentingan masyarakat.
Di tengah semakin banyaknya layanan penyiaran berbayar, kehadiran TVRI menjadi bukti bahwa akses terhadap informasi dan hiburan yang berkualitas tetap dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa dibatasi kemampuan ekonomi.
Ketika peluit akhir Piala Dunia dibunyikan nantinya, yang tertinggal bukan hanya catatan tentang siapa yang menjadi juara. Yang lebih penting adalah bagaimana ajang ini menghadirkan kebersamaan, memperkuat nilai-nilai sportivitas, membuka ruang interaksi sosial, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Dalam konteks itulah saya memandang TVRI tidak hanya menyiarkan pertandingan sepak bola, tetapi juga menjalankan fungsi pelayanan publik yang sesungguhnya, menghadirkan siaran yang mampu menyatukan, mengedukasi, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. (*/IR)




