Ungkap.co.id – Rasa kehilangan memang tidak pernah benar-benar hilang dari hati keluarga yang ditinggalkan. Namun dalam ajaran Islam, kerinduan kepada orang-orang tercinta yang telah berpulang dapat diwujudkan melalui doa, silaturahmi, dan amal kebaikan.
Semangat itulah yang melatarbelakangi peringatan 1000 hari wafatnya Almarhum Tri Soewandono dan Almarhumah Hj. Setyowati Wardhani yang akan dilaksanakan pada Jumat, 19 Juni 2026, di kediaman keluarga di Jalan Sultan Thaha Unit 2, Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo.
Mengusung tema “Mengukuhkan Silaturahmi, Meresapi Arti Kehidupan”, kegiatan tersebut akan menjadi momentum untuk mempererat hubungan kekeluargaan sekaligus merenungkan makna kehidupan yang sesungguhnya.
Selain diisi dengan doa bersama dan rangkaian ibadah, acara ini juga menghadirkan ulama nasional Prof. H. Abdul Somad (UAS) Batubara, yang akan menyampaikan tausiyah keagamaan kepada para jamaah yang hadir.
Kehadiran Ustaz Abdul Somad menjadi bagian istimewa dalam peringatan 1000 hari tersebut. Dai kharismatik yang dikenal luas melalui dakwah-dakwahnya yang menyejukkan, mencerahkan, dan sarat nilai keilmuan itu diharapkan mampu menghadirkan suasana penuh hikmah dan refleksi bagi seluruh jamaah.
Tausiyah yang akan disampaikan tidak hanya menjadi penguat keimanan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk merenungi hakikat kehidupan, kematian, serta pentingnya menjaga silaturahmi sebagai salah satu amalan yang membawa keberkahan dunia dan akhirat.
Baca Juga : Diduga Fitnah, Ketua KONI Jambi Laporkan Akun Medsos ke Polda Jambi
Di tengah momentum mengenang perjalanan hidup Almarhum Tri Soewandono dan Almarhumah Hj. Setyowati Wardhani, nantinya pesan-pesan yang disampaikan Ustaz Abdul Somad diharapkan menjadi pengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali menghadap Allah SWT dengan membawa bekal amal dan kebaikan yang telah ditanamkan selama hidup di dunia.
Kehadirannya sekaligus menjadi magnet bagi masyarakat untuk menghadiri majelis ilmu yang penuh keberkahan, menjadikan peringatan ini bukan sekadar acara mengenang, melainkan juga sarana memperkuat nilai-nilai keislaman dan ukhuwah.
Bagi keluarga besar, peringatan 1000 hari bukan hanya sebuah tradisi, melainkan momentum untuk mengenang keteladanan hidup yang diwariskan oleh kedua orang tua mereka. Nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan, kerja keras, dan kepedulian terhadap sesama yang selama ini ditanamkan menjadi warisan berharga yang terus dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Dr. Woro Handayani mewakili keluarga besar, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk penghormatan sekaligus ungkapan cinta yang tidak pernah putus kepada kedua almarhum.
“Kami meyakini bahwa doa adalah bentuk cinta yang tidak pernah terputus. Melalui kegiatan ini, kami mengajak seluruh keluarga, sahabat, dan masyarakat untuk bersama-sama mendoakan Almarhum Bapak Tri Soewandono dan Almarhumah Ibu Hj. Setyowati Wardhani agar senantiasa mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Semoga silaturahmi yang terjalin pada kesempatan ini menjadi amal kebaikan yang terus mengalir dan menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan kebaikan dan doa akan tetap abadi,” ujarnya.
Menurutnya, sosok almarhum dan almarhumah bukan hanya dikenang sebagai orang tua yang penuh kasih sayang, tetapi juga sebagai teladan dalam menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan dan keikhlasan.
Baca Juga : Tebar Berkah, Golkar Jambi Bagikan 1.150 Kantong Daging Kurban untuk Warga
“Kami tidak hanya mengenang sosok ayah dan ibu sebagai orang tua, tetapi juga sebagai teladan kehidupan. Nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan, kerja keras, serta kepedulian kepada sesama yang mereka ajarkan akan terus kami jaga dan wariskan kepada generasi berikutnya. Semoga pertemuan ini menjadi ladang keberkahan, memperkuat ikatan kekeluargaan, dan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir untuk mereka,” tambahnya.
Peringatan 1000 hari ini menjadi pengingat bahwa kehidupan di dunia hanyalah persinggahan sementara. Pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah harta maupun jabatan, melainkan jejak kebaikan, keteladanan, serta doa-doa tulus yang dipanjatkan oleh keluarga dan orang-orang yang mencintainya.
Melalui kegiatan ini, keluarga besar berharap nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan Almarhum Tri Soewandono dan Almarhumah Hj. Setyowati Wardhani dapat terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus.
Di saat yang sama, momentum tersebut diharapkan semakin mempererat tali silaturahmi, memperkuat persaudaraan, dan menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Karena sejatinya, manusia yang berpulang tidak lagi membutuhkan pujian, melainkan doa yang tulus dari mereka yang masih hidup. Dan melalui doa itulah, cinta akan tetap hidup meski dipisahkan oleh waktu dan alam yang berbeda,” tutupnya. (Viryzha)




