Belasan Hari Dirawat di Rumah Sakit, Balita Kurang Gizi di Bungo Meninggal Dunia

Natan Apriansyah penderita dugaan kurang gizi saat dilakukan perawatan di rumah sakit. (Dok Pertiwi)

Ungkap.co.id Natan Apriansyah balita penderita kurang gizi yang sempat dirawat belasan hari di RSUD H. Hanafie Muara Bungo telah meninggal dunia.

Bocah berusia 13 bulan anak dari pasangan Edison dan Doli Yurinata itu meninggal dunia sekitar pukul 16.00 WIB pada Sabtu, 27 Januari 2024.

Bacaan Lainnya

Informasi terkait meninggalnya Natan ini dibenarkan oleh Pertiwi yang merupakan pihak keluarganya.

“Sudah jadi anak surga (meninggal dunia),” kata Pertiwi kepada Ungkap.co.id saat dikonfirmasi via WhatsApp pada Sabtu malam, 27 Januari 2024.

Hal yang sama pula dibenarkan oleh Abu Yazid warga Kecamatan Jujuhan.


“Benar, jam 4 sore tadi,” kata Abu Yazid.

Baca Juga : SMSI Provinsi Jambi, BKKBN dan SAH Sepakat Kurangi Angka Stunting

Informasi meninggalnya Natan, kata Abu Yazid didapatkan dari bibinya yang menjaga Natan selama di rumah sakit.

“Tadi saya menghubungi bibinya. Kata bibinya, Natan sudah meninggal dunia. Sudah dikebumikan di tempat pemakaman setempat,” ungkapnya.

“Begini, awalnya saya yang mengantarkan anak ini ke rumah sakit. Hal ini setelah dihubungi pihak keluarganya. Saya juga yang mengurus SKTM Natan ini. Innalilahi wainnailaihi rojiun. Semoga husnul khotimah ya nak,” ungkapnya lagi.

Baca Juga : Wabup Bungo Hadiri Launching Dapur Sehat Atasi Stunting di Dusun Lubuk


Kemudian informasi meninggalnya Natan ini juga dibenarkan oleh Datuk Rio (Kades) Pulau Jelmu, Masrodi.

“Ya sudah meninggal dunia,” kata Masrodi dengan singkat saat dikonfirmasi via WhatsApp.

Informasi terkait meninggalnya Natan ini juga diposting oleh akun Facebook (Meta) Alpindo Mustakim. Alpindo Mustakim juga memposting foto Natan saat dirawat di rumah sakit.

“Innalilahi wainnailaihi rojiun. Barusan dapat info adek Natan Sudah menghadap sang khalik dan menjadi anak penghuni surga,” tulisnya saat dikutif pada Sabtu, 27 Januari 2024.

Kemudian Ungkap.co.id konfirmasi via WhatsApp Alpindo Mustakim terkait informasi meninggalnya Natan tersebut.

“Ya sudah meninggal dunia, tidak lama kami kesitu tadi (menjenguk Natan). Info ini didapat dari Merry yang kenal dengan bibi Natan,” ujarnya.

Baca Juga : Berkat Ketekunan Sosialisasi, 69% Warga Kec. Tanah Tumbuh Sudah Divaksin

Rencana Mau Dirujuk ke Padang

Sebelumnya Kadis Kesehatan Kabupaten Bungo, dr. H. Syafarudin Matondang mengatakan, saat ini Natan masih dirawat dan ditangani oleh dokter spesialis di RSUD H. Hanafie Muara Bungo.

“Rencananya nanti mau dirujuk ke salah satu rumah sakit yang ada di Padang,” ujarnya, Jum’at, 26 Januari 2024 sebagaimana disadur dari Bungonews.

Lanjut dia, perujukan tersebut setelah ada jawaban dari rumah sakit di Padang. Selain itu juga, setelah kondisi Natan benar-benar layak dan diperbolehkan untuk dirujuk.

Dia menceritakan bahwa Natan selama ini diurus oleh neneknya. Natan sering diberikan susu kental manis bukan susu formula atau ASI.

“Sehingga kondisi Natan mengalami kurang gizi yang menyebabkan terjadi infeksi mata dan alergi kulit,” jelasnya.

Menurut Kadinkes, terkait biaya pengobatan itu menggunakan SKTM. Namun saat ini, pihaknya sudah mengurus BPJS Kesehatan.

BPJS Kesehatan nya sudah diurus,” ungkapnya.

Sempat Dirawat di Rumah Sakit

Diberitakan sebelumnya, Natan Apriansyah terbaring di RSUD H. Hanafie Muara Bungo. Bocah laki-laki berumur 13 bulan ini dirawat karena diduga menderita kurang gizi.

Baca Juga : Kabupaten Bungo Terbaik Ketiga Dalam Penurunan Angka Stunting

“Natan dirawat di rumah saki karena diduga menderita kurang gizi. Sudah 16 hari dirawat,” kata Pertiwi, pihak keluarga dari Natan saat dihubungi melalui WhatsApp pada Rabu malam, 24 Januari 2023.

Anak dari pasangan Edison dan Doli Yurinata yang merupakan warga Dusun Pulau Jelmu, Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Bungo ini kata Pertiwi, juga menderita alergi kulit.

“Sekarang kulitnya sudah ada perubahan (mendingan). Namun kami khawatir terhadap matanya yang agak bernanah. Jadi akan dirujuk ke rumah sakit di Padang,” ujarnya.

Baca Juga : Tingkatkan Gizi Ibu dan Anak, Pemdus Sungai Mancur Bagikan Sembako

Kata Pertiwi, jika nanti jadi dirujuk ke Padang, maka itu akan membutuhkan biaya. Sementara untuk BPJS masih dalam kepengurusan.

“Walaupun sekarang kami ada berobat menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), namun kami butuh biaya juga untuk makan. Sedangkan BPJS ada pihak-pihak yang mau membantu mengurusnya. Jadi, kami meminta kepada Tuhan agar tidak jadi dirujuk ke Padang. Karena kalau jadi, kami belum mempersiapkan dana. Itu butuh biaya,” ujarnya. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *