Kini, Iin berhasil mengembangkan beragam produk pangan berbahan dasar sawit, mulai dari bolu sawit, keripik sawit, kue kering sawit, selai sawit, rendang sawit, dodol sawit, brownies sawit hingga es boba sawit.
Produk andalannya, Bolu Sawit, menggunakan sekitar 30-40 persen saripati sawit dan telah menjadi salah satu oleh-oleh khas Muaro Bungo yang diminati masyarakat.
Apa Itu Saripati Sawit?
Banyak peserta workshop yang baru mengetahui bahwa buah sawit ternyata dapat menghasilkan bahan pangan bernama saripati sawit.
Menurut Iin, saripati sawit merupakan cairan kental berwarna jingga yang terdiri dari pati dan minyak merah alami hasil ekstraksi langsung dari daging buah sawit.
Berbeda dengan minyak goreng yang melalui proses pemurnian panjang, saripati sawit diolah secara tradisional sehingga kandungan nutrisinya tetap terjaga.
“Saripati sawit memberikan warna kuning keemasan alami pada bolu tanpa perlu pewarna sintetik. Selain itu kaya akan karotenoid atau provitamin A dan tokoferol yang merupakan vitamin E alami,” jelasnya.
Tak hanya menghasilkan warna menarik, saripati sawit juga membuat tekstur bolu menjadi lebih lembut dan memberikan aroma gurih yang khas. Menurut Iin, memasukkan saripati sawit ke dalam adonan bukan sekadar inovasi rasa.
“Ini adalah strategi fortifikasi pangan alami. Saripati sawit mengubah bolu dari sekadar camilan manis menjadi pangan fungsional yang kaya antioksidan dan vitamin,” katanya.
Antusiasme Peserta dan Lahirnya Ide-Ide Baru
Hari kedua workshop menjadi bagian yang paling dinanti peserta. Sebanyak 50 peserta dibagi ke dalam lima kelompok dan dipandu langsung oleh Iin Arlina untuk mempraktikkan pembuatan aneka penganan berbahan dasar sawit.
Baca Juga : DPRD Muaro Jambi Prihatin harga TBS Kelapa Sawit Terus Merosot
Sejak pukul 09.00 hingga 17.00 WIB, mereka berhasil menghasilkan bolu sawit, dodol sawit, bangkit sawit, dan berbagai kreasi lainnya.
Antusiasme peserta terlihat jelas.
Mega, pemilik UMKM Corn Stik By Mega dari Kasang Pudak, mengaku mendapat perspektif baru mengenai sawit.
“Workshop ini membuat saya tertampar. Kita hidup di daerah penghasil sawit, tapi saya tidak pernah berpikir bahwa sawit bisa menjadi kuliner yang enak seperti ini,” katanya.
Hal serupa dirasakan Nora Ziani yang datang dari Kabupaten Batanghari.
“Ini langka. Baru kali ini saya dengar istilah bolu sawit,” ujarnya sambil tersenyum.
Baginya, pengalaman mencicipi hasil karya sendiri menjadi bukti bahwa peluang usaha berbasis sawit sangat menjanjikan.
“Semua bolu yang kami buat rasanya enak. Artinya potensinya luar biasa untuk dikembangkan menjadi usaha,” katanya.
Tak hanya kaum perempuan, pelaku usaha laki-laki juga ikut bersemangat.
Ade Putra, pemilik Ziade Donat dari Sengeti, Muaro Jambi, bahkan sudah merancang inovasi baru.
“Saya ingin membuat donat berbahan saripati sawit di Muaro Jambi. Saya tidak mau kalah dengan ibu-ibu,” ujarnya sambil tertawa.
Mengubah Stigma, Membuka Peluang
Ketua Panitia Pelaksana, Warsito, berharap peserta mampu mengembangkan usaha berbasis sawit setelah mengikuti kegiatan tersebut.
“Saya berharap muncul berbagai produk baru seperti bolu sawit, dodol sawit, bangkit sawit, maupun inovasi lainnya yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat,” katanya.




