Ungkap.co.id – Langit Jambi seperti ikut berduka. Kota Jambi tampak teduh ketika pintu pesawat yang membawa jenazah H. A. Bakri HM Rabu pagi, 29 Juli 2026. Bandara Sultan Thaha tak lagi menjadi tempat orang-orang menyambut kedatangan. Hari itu, bandara menjadi saksi kepulangan terakhir seorang putra terbaik Jambi.
Pukul 10.35 WIB, pintu pesawat perlahan terbuka. Sebuah peti jenazah diturunkan dengan penuh penghormatan. Di dalamnya berbaring H. A. Bakri HM anggota DPR RI empat periode yang selama hampir dua dekade menjadi salah satu wajah Jambi di Senayan.
Tak ada tepuk tangan. Tak ada sorak kemenangan. Yang terdengar hanyalah lantunan doa, isak tangis keluarga, dan wajah-wajah kehilangan yang berdiri mengiringi kepulangan terakhirnya.
Gubernur Jambi Al Haris, Ketua DPRD Provinsi Jambi Hafizh Fattah, Kapolda Jambi Irjen Pol. Krisno H. Siregar, Anggota DPR RI Hasan Basri Agus, Bupati Sarolangun Hurmin, mantan Gubernur Jambi Zumi Zola bersama Putri Zulhas, para sahabat, kolega politik, hingga masyarakat biasa hadir dalam suasana yang sama: mengantar seorang sahabat.
Dari bandara, jenazah langsung dibawa menuju Masjid Tsamaratul Insan atau Islamic Center Jambi. Ratusan orang telah menunggu. Sebagian datang karena mengenal kiprah politiknya. Sebagian lagi datang hanya karena mengenal pribadinya.
Di hadapan para pelayat, Gubernur Al Haris mengajak masyarakat menerima kepergian H. A. Bakri dengan penuh keikhlasan.
“Allah telah menetapkan ini sebagai keputusan terbaik bagi kita semua. Sebagai hamba-Nya, kita harus ridha dan ikhlas menerima takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujarnya.
Al Haris menyebut Jambi kehilangan satu tokoh yang selama bertahun-tahun memperjuangkan kepentingan daerah di tingkat nasional.
“Semoga seluruh pengabdiannya dicatat sebagai amal ibadah dan Allah SWT menempatkan almarhum dalam husnul khatimah,” ujarnya.
Namun, bagi banyak wartawan di Jambi, kehilangan itu terasa sedikit berbeda. Bukan hanya karena H. A. Bakri adalah anggota DPR RI.
Melainkan karena ia adalah salah satu politisi yang tidak pernah menjaga jarak dengan media. Ia selalu menjawab telepon. Selalu menyapa lebih dulu.
Ia selalu menyediakan waktu untuk diwawancarai, bahkan ketika agenda politiknya padat di Jakarta.
Tidak sedikit wartawan muda yang pertama kali belajar meliput politik nasional melalui sosok H. A. Bakri. Ia tidak pernah mempersulit akses informasi.
Sebaliknya, ia justru menganggap media sebagai sahabat perjalanan dalam menyampaikan kerja-kerja politik kepada masyarakat.
Baca Juga : Tol Baleno Diresmikan dan Segera Beroperasi, Kepala BPJN: Tunggu Kelengkapan Administrasi
Bagi Direktur Jambi TV sekaligus Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Jambi, Mukhtadi Putranusa, hubungan itu bahkan telah terjalin jauh sebelum H. A. Bakri menjadi anggota DPR RI.
Mereka sama-sama pernah berada dalam satu ruang perjuangan politik nasional ketika tergabung dalam Tim Lembang 9 yang mendukung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla pada Pemilihan Presiden.
Kala itu, rapat-rapat kecil berlangsung di sebuah ruko di kawasan Simpang Pulai, Jambi. Sesekali berpindah ke Posko Lembang 9 di Jakarta.
Perjalanan Jambi–Jakarta menjadi rutinitas. Di ruang-ruang sederhana itulah banyak gagasan lahir.
“Banyak kenangan bersama almarhum. Bahkan sebelum almarhum menjadi anggota DPR RI kami sudah sering bersama,” kenang Mukhtadi.
Namun yang paling diingat bukanlah pembicaraan politik. Justru obrolan-obrolan ringan tentang dunia usaha, kehidupan, keluarga, hingga cerita masa kecil generasi 1980-an dan 1990-an.
Setiap percakapan hampir selalu diakhiri dengan motivasi. H. A. Bakri mempunyai kebiasaan menyelipkan pesan-pesan sederhana tentang kerja keras, optimisme, dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan siapa pun.
Ia berbicara seperti seorang sahabat. Bukan seperti seorang pejabat. Ketika akhirnya duduk di DPR RI, hubungan itu tidak pernah berubah.
Studio Jambi TV menjadi salah satu tempat yang paling sering ia datangi setiap kali berada di kampung halaman. Ia datang bukan hanya saat musim politik.
Ia hadir untuk menjelaskan program pemerintah, membahas pembangunan Jambi, berdiskusi mengenai ekonomi, bahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis dari para jurnalis.
Di ruang redaksi, hampir semua wartawan mengenalnya. Ia hafal nama banyak reporter. Tak jarang justru H. A. Bakri yang lebih dahulu menyapa.
Bagi insan pers, ia adalah narasumber yang selalu mudah ditemui. Bagi masyarakat, ia adalah wakil rakyat yang tetap membumi.
Empat periode di DPR RI tentu bukan perjalanan yang singkat. Selama itu pula, H. A. Bakri mengawal berbagai program pembangunan di Provinsi Jambi, mulai dari infrastruktur jalan, jembatan, hingga berbagai kebutuhan masyarakat yang diperjuangkannya melalui parlemen.
Tetapi, seperti yang banyak dikenang orang, warisan terbesarnya bukan sekadar pembangunan fisik. Ia meninggalkan cara berpolitik yang santun. Dekat dengan masyarakat. Dekat dengan media. Dekat dengan siapa saja.
Ketua DPRD Kota Jambi, Kemas Faried Alfarelly, masih menyimpan sebuah foto yang kini memiliki makna berbeda.
Foto itu diambil pada 12 Mei 2026 di Kompleks Parlemen Senayan. Di dalam bingkai sederhana itu, berdiri H. A. Bakri bersama dirinya dan Cek Endra. Tak ada yang menyangka, itulah pertemuan terakhir.
“Sebuah kehormatan dapat berfoto bersama almarhum dan Cek Endra. Tidak pernah terbayangkan, momen itu menjadi kenangan terakhir bersama sosok yang begitu kami hormati,” ujarnya.
Menurut Kemas Faried, H. A. Bakri adalah teladan bagi politisi muda.
“Provinsi Jambi kehilangan salah satu putra terbaiknya. Kami kehilangan sosok wakil rakyat yang merakyat, rendah hati, dan selalu memperjuangkan kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Anggota DPRD Provinsi Jambi, Ansori. Baginya, H. A. Bakri bukan hanya senior di Partai Amanat Nasional. Ia adalah mentor.
Perkenalan mereka bermula dari media sosial. Ansori mengikuti berbagai aktivitas H. A. Bakri yang konsisten memperjuangkan pembangunan Jambi.
Kekaguman itu membawanya bersilaturahmi ke kantor PAN. Hubungan mereka pun semakin dekat hingga Ansori beberapa kali dipercaya mendampingi kunjungan kerja almarhum ke Kabupaten Bungo dan Tebo.
“Almarhum mengajarkan bahwa politik bukan soal jabatan, tetapi bagaimana memberi manfaat kepada masyarakat,” tuturnya.
Ketua DPRD Provinsi Jambi, Hafizh Fattah, juga mengenang sosok H. A. Bakri sebagai pembimbing bagi generasi politisi muda.
“Jambi kehilangan salah satu tokoh terbaiknya. Melalui karier politiknya, sudah banyak manfaat pembangunan yang dirasakan masyarakat,” ujarnya.
“Almarhum itu mentor bagi kami. Sering menjadi teman berdiskusi dan bertukar pikiran tentang arah pembangunan Jambi,” katanya.
Menjelang siang, iring-iringan kendaraan bergerak menuju Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi.
Di sanalah perjalanan panjang seorang politisi, seorang pengusaha, seorang sahabat, sekaligus seorang guru kehidupan berakhir.
Namun sesungguhnya, tidak semua perjalanan selesai ketika liang lahat ditutup. Sebab yang ditinggalkan H. A. Bakri bukan hanya jejak pembangunan.
Ia meninggalkan kenangan. Kenangan tentang seorang wakil rakyat yang tidak pernah merasa lebih tinggi dari rakyatnya.
Tentang seorang politisi yang tetap menghormati wartawan, bahkan ketika berada di puncak karier.
Tentang seorang sahabat yang selalu menyelipkan motivasi dalam setiap percakapan. Dan tentang seorang putra Jambi yang memilih mengabdi hingga akhir hayatnya.
Epilog Perjalanan Seorang Pengusaha Menjadi Wakil Rakyat
H. A. Bakri HM lahir di Pulau Kijang, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, pada 15 Mei 1968. Meski lahir di Riau, hampir seluruh perjalanan hidupnya dijalani di Jambi.
Ia mengenyam pendidikan di SD Negeri 28/V Simbur Naik, SMP Negeri 9 Jambi, SMA Xaverius I Jambi, kemudian melanjutkan kuliah di STIE Muhammadiyah Jambi.
Sebelum memasuki dunia politik, H. A. Bakri dikenal sebagai pengusaha. Dunia usaha membentuk karakter kepemimpinannya yang terbuka dan dekat dengan banyak kalangan.
Karier politiknya dimulai bersama Partai Amanat Nasional hingga akhirnya dipercaya masyarakat Jambi menjadi Anggota DPR RI selama empat periode berturut-turut: 2009–2014, 2014–2019, 2019–2024, dan 2024–2029.
Empat periode itu mungkin tercatat dalam sejarah politik. Namun bagi banyak orang di Jambi, yang akan lebih lama dikenang adalah cara H. A. Bakri memperlakukan orang lain dengan kesederhanaan, keramahan, dan rasa hormat yang tidak pernah berubah. (*/IR)




